Balasan Keisengan


Aldi, Raka, dan Neo bersahabat sejak duduk di bangku kelas 1 SD. Rumah mereka pun berdekatan.

Setiap hari mereka bermain bersama. Mengerjakan PR pun bersama.

Semenjak duduk di bangku kelas 3 SD, Aldi, Raka, dan Neo mulai terlihat isengnya.

Setiap hari ada saja tingkah iseng mereka.

Menarik bangku temannya yang akan duduk, melempar penghapus dan berpura-pura bukan mereka yang melempar, hingga menyandung kaki temannya yang sedang berjalan.

Ck. Ck. Ck.

Bu Riana sudah sering sekali menegur bahkan menghukum mereka, tetapi mereka tidak jera juga.

Paling hanya satu-dua hari mereka tidak iseng, selebihnya tingkah mereka kembali seperti biasa.

Teman-teman sekelasnya sebal melihat mereka. Ingin rasanya membalas perbuatan mereka, agar jera. Namun, Ibu Riana tidak membolehkan murid-muridnya membalas dendam.

sekolah_medium

“Biar Ibu yang menghukum. Nanti juga mereka kena batunya sendiri,” ujar Ibu Riana suatu hari.

Hari Sabtu dan Minggu, SD Tunas Bangsa mengadakan acara Persami (Perkemahan Sabtu Minggu).

Seluruh anak kelas 3-5 wajib mengikuti Persami.

Aldi, Raka, dan Neo juga ikut. Mereka malah yang paling semangat.

Rencana-rencana jahil sudah tersusun rapi di agenda khayalan mereka.

Pukul 5 sore mereka sudah tiba di SD Tunas Bangsa. Senyum mereka riang sekali. Membayangkan akan seperti apa nanti muka-muka teman-teman mereka jika rencana keisengan mereka berhasil.

Pukul setengah 6 sore semua anak sudah berkumpul di tengah lapangan.

Pak Andi memberikan pengarahan dan peraturan-peraturan dalam Persami kali itu.

Semuanya terlihat tertib dan berjalan lancar sampai sebuah kejadian yang menghebohkan terjadi pukul 10 malam.

Aldi, Raka, dan Neo membungkus tubuh mereka dengan kain berwarna putih dan menyenter muka mereka agar terlihat seram.

Mereka berjalan melompat-lompat kecil, menakut-nakuti teman-teman perempuan mereka.

“Hiii… Hiii.. Hiii.. Hiii…” ujar mereka berusaha menakut-nakuti.

“Jangan ganggu rumahku. Hiii… Hiii… Hii..,” Aldi berusaha menirukan suara hantu.

hantu_medium

“AAAAAAAAAAAAAAAAAAAAA! HANTUUUUUUUU! BU GURUUUUUUUU”

Semua anak perempuan kelas 3 berhamburan keluar dari ruang kelas. Mereka ketakutan.

“Huahahahahahaha,” mereka bertiga spontan tertawa melihat muka ketakutan teman-temannya.

“Begitu saja takut, ya! Payah! Hahahahaha,” seru Neo puas sekali.

Tiba-tiba…

JLEBB! Kreekkk..

Lampu kelas mati. Pintu tertutup dan sepertinya ada yang mengunci dari luar.

Aldi, Raka, dan Neo langsung terdiam. Mereka ada di dalam kelas itu. Ketiganya langsung pucat.

“Siapa itu?” Ucap Raka yang paling berani di antara Aldi dan Neo.

“Aaa.. Aa…. maap mbah, kamu tidak bermaksud menghina Anda. Kami  hanya ingin meniru Anda untuk menakut-nakuti teman-teman kami, Mbah,” ujar Aldi polos. Keringatnya sudah bercucuran.

Krieeeekkkkk…

Tiba-tiba pintu kelas terbuka dengan pelan.

BRAAK!

Tiba-tiba pintu tertutup kembali dengan sangat keras.

Seketika itu juga Aldi, Raka, dan Neo langsung terlonjak ketakutan.

Mereka menjerit-jerit. Menggedor-gedor pintu kelas. Mencoba meminta pertolongan.

“Bukaaa! Bukaaa!!! Toloooonggg! Ampuuuun! Bukaa! AAAAA!” ketiganya menjerit-jerit gak karuan.

“Amppuuuunn! Kami jeraaaa! Kami tidak akan iseng lagi, mbah! Ampuuuun!” seru Aldi spontan.

Tiba-tiba lampu nyala. Pintu kelas terbuka. Aldi, Raka, dan Noe terhuyung ke belakang.

Di hadapan mereka sudah ramai sekali. Semua murid, dan guru berdiri di sana. Menahan senyum.

Aldi, Raka, dan Noe bengong. Keringat sudah membasahi baju mereka. Mukanya pucat dan merah. Menahan malu.

“Makanya jangan iseng! Digangguin, deh, sama Mba Jambrong! Hahahaha,” Lily merasa puas sekali karena dia juga pernah menjadi korban keisengan Aldi, Raka, dan Noe.

“Sudah. Sudah. Nah, Aldi, Raka, Noe, kalian sudah tahu, kan, bahwa berbuat iseng itu memang menyenangkan, tetapi yang diisengin pasti akan merasa kesal. Besok-besok tidak ada lagi tindakan jahil di sekolah, ya! Bapak harap dengan kejadian ini kalian bisa jera,” Pak Andi menasehati ketiganya.

Aldi, Raka dan Noe mengangguk pasrah. Mereka lemas dan masih agak bingung.

Ternyata, memang tidak enak kalau diisengin dengan berlebihan. Ketiganya tampak sangat menyesal.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s