Kuda Kayu yang Dicuri


Hakim membunyikan belnya, seketika itu juga ruangan menjadi tenang. Setelah ruangan menjadi tenang, Hakim itu berbicara dengan suara yang berwibawa.

Kuda_medium

“Aku adalah hakim dari desa Navalacorneya dan daerah sekitarnya. Orang-orang sudah mengenal aku sebagai hakim yang adil. Orang-orang yang tidak bersalah senang kepadaku, sedangkan orang-orang yang bersalah takut bahkan membenci aku. Sekarang giliran Pasqual untuk berbicara.”

“Aku adalah Pasqual, seorang tuan tanah yang terkaya di desa ini. Aku datang ke sini untuk mengadu, bahwa seseorang telah mencuri kuda kayu saya, Bapak Hakim. Kuda itu bagus sekali. Di dunia ini tak ada kuda kayu yang sebagus ini. Pada suatu malam ketika hujan sedang turun dengan lebat datang seorang mencuri kuda itu. Karena itu saja mohon agar Bapak Hakim menghukum si pencuri itu!”

“Sekarang giliran Ramona berbicara. Benarkah bahwa kau pernah menjual kuda kayu itu kepada Pasqual?” tanya Hakim.

“Aku adalah Ramona, seorang tukang bubur yang terkenal di desa ini dan daerah sekitarnya. Memang Pak Hakim, saya telah menjual kuda kayu yang dibuat oleh Niceto, suamiku, dengan harga Rp. 5.000,-“ jawab Ramona.

Mendengar istrinya menjual kuda kayu itu hanya seharga Rp. 5.000,-, Niceto terisak-isak.
“Astaga! Kuda sebagus itu hanya dijual Rp. 5.000,-,” Niceto mengeluh.
“Tenang! Tenang!” teriak hakim sambil membunyikan belnya.

“Aku tidak menyesal meskipun saya telah menjualnya!” jawab Ramona.

“Pak Hakim! Saya menjual kuda itu karena saya sudah muak dengan benda itu selama beberapa hari. Dan selama itu ia tidak pernah membuat lemari untuk dijual, sehingga kami tidak mempunyai uang. Maka kuda itu lalu saya jual. Tapi hasil penjualan kuda itu sudah tidak ada, karena sudah saya berikan kepada orang lain. Jadi dapat dikatakan, bahwa kuda itu telah kuberikan kepada orang lain.”

“Lima ribu rupiah! Lima ribu rupiah! Yah, ampun kuda sebagus itu hanya dijual lima ribu rupiah! Kuda yang terbagus di dunia ini!” Niceto menangis terisak-isak.

“Tenang! Tenang! Tenang!” teriak Hakim, lalu katanya, “Tertuduh harap berdiri!”
Niceto berdiri sambil menangis.

“Benarkah engkau yang mengambil kuda itu?” tanya Hakim.

Kuda_medium (1)

“Saya adalah Niceto, pembuat lemari yang terpandai di desa dan daerah ini. Saya tidak mencuri kuda itu. Bagaimana mungkin saya dapat mencurinya, karena saya tidak tahu di mana kuda itu berada. Kuda itu menghilang dari kamar kerja saya sejak beberapa hari yang lalu. Saya telah mencarinya tetapi sia-sia belaka. Hal itu saya katakan kepada istri saya. Ia mengaku, bahwa ia telah menjualnya. Uang penjualan itu akan digunakan untuk membeli minyak dan tepung untuk membuat bubur,” demikian Niceto bertutur sambil menangis katanya lagi,

“Saya sudah bosan membuat lemari. Semua lemari di sini adalah buatanku. Saya ingin membuat sesuatu yang lain, yang juga menghasilkan uang.

Pada suatu hari Manolin, pembantuku, bertanya, “Apakah saya tidak mau membuat sebuah kuda kayu saja. Lalu saya merencanakan untuk membuat sebuah kuda kayu yang mempunyai kuping dan ekor yang berdiri seolah-olah kuda itu sedang berlari. Dengan demikian setiap anak yang duduk di atas kuda itu akan merasa kuda itu sedang lari cepat. Tapi ketika istri saya melihat saya tidak membuat lemari, ia memarahi saya. Semenjak itu saya mengerjakannya dengan sembunyi-sembunyi.”

“Tapi kuda saya telah dicuri, Pak Hakim!” kata Pasqual.
“Tenang! Tenang! Tenang!”

“Sungguh saya tidak mengambilnya Pak Hakim. Saya mengatakan yang sebenarnya Pak Hakim.” Hakim itu tidak tahu apa yang harus ia lakukan. Akhirnya ia berdiam sejenak. Ia membunyikan bel itu agar para hadirin tenang.

Hakim itu lalu berkata, “Aku adalah hakim dari desa Navalacorneya dan sekitarnya. Orang yang tidak bersalah senang padaku, sedangkan orang yang bersalah membenciku. Kita semua telah mendengar penjelasan dari Pasqual, Niceto dan Ramona. Sekarang kita harus menentukan siapa di antara mereka yang bersalah!”

“Tidak pak Hakim!” teriak seseorang.
“Tenang! Tenang!”

“Tidak pak Hakim! Saya adalah Manolin, pembantu Niceto. Saya mengaku, bahwa sayalah yang mencuri kuda itu.”
“Apa katamu?” tanya pak Hakim keheranan.

Manolin berkata, “Saya sudah bekerja pada Niceto sejak beberapa bulan yang lalu. Dari dia saya belajar membuat lemari. Sering saya mendengar Niceto mengeluh karena bosan membuat lemari setiap hari. Tapi istrinya memerlukan uang untuk membeli bahan-bahan untuk membuat bubur. Saya merasa kasihan kepadanya. Pada suatu hari saya bertemu dengan seorang anak kecil yang sedang bersedih hati. Anak itu berkata, ia ingin seekor kuda kayu. Di rumahnya yang ada hanya lemari kayu saja. Saya lalu mengusulkan kepada Niceto agar membuat kuda kayu. Niceto membuat kuda kayu yang bagus sekali. Pada suatu hari Niceto menangis karena kuda kayu itu hilang dari kamar kerjanya. Ketika saya menceritakan hal itu kepada anak keil itu, anak itu pun menangis. Dari Ramona saya mengetahui, bahwa kuda itu sudah dijualnya kepada Pasqual. Malamnya saya datang ke sana dan mengambil kuda itu,” Manolin bercerita dengan terus terang.

“Pak Hakim saya telah kecurian seekor kuda yang terbagus di dunia ini. hukumlah si pencuri dengan adil Pak Hakim!”
“Tenang! Tenang!”

Lalu kata hakim itu, “Saya adalah hakim dari desa Navalacorneya dan sekitarnya. Saya ingin agar Manolin memberitahukan di mana kuda itu sekarang, sehingga Manuel, pembantuku, akan segera mengambilnya.”

“Tidak! Saya tidak dapat mengatakannya di mana!”
“Katakan cepat! Atau kau kumasukkan ke dalam penjara!”

“Tidak! Saya tidak mau!”
“Kalau begitu baiklah! Bawalah dia segera ke penjara!”

Orang-orang melihat Manolin dipukul dan diseret ke penjara. Tiba-tiba datang seorang anak perempuan kecil. Anak itu berkata, “Jangan masukkan dia ke penjara! Kuda itu ada padaku.” Mendengar hal itu pak Hakim terkejut sekali.

Maka kini anak itulah yang duduk di tempat tertuduh. Anak itu menundukkan kepalanya sambil menangis.

Kuda_medium (2)

“Kau anak Hakim dari Navalacorneya. Kau memiliki kuda itu? Cepat katakan dimana kuda itu sekarang. Akan kusuruh pembantuku mengambilnya,” hakim memberi perintah kepada anaknya.

“Kuda itu ada di rumah, di gudang di atas loteng. Aku menyembunyikannya di bawah meja-meja tua,” gadis kecil itu mengatakannya dengan jujur.

Manuel, pembantu hakim segera mengambil kuda kayu itu. Ketika kuda kayu itu dibawa ke ruang sidang semua orang yang melihatnya tercengang. Memang kuda itu bagus sekali, seperti kuda hidup.

Hakim berdiri seolah-olah mau mengucapkan sesuatu yang penting. Tetapi ia berkata, “Kuda kayu ini sungguh bagus. Belum pernah saya melihat sebuah kuda kayu sebagus ini.”

Manuel berbisik kepada hakim, “Bapak Hakim semua orang sedang menunggu keputusan Bapak.”

Hakim lalu mengumumkan keputusannya, “Saya Hakim dari desa Navalacorneya dan sekitarnya. Orang-orang yang tidak bersalah senang pada saya, sedangkan yang bersalah takut pada saya. Menurut saya, Ramona harus dihukum. Ia harus mengembalikan Rp. 5.000,- pada Pasqual. Niceto harus membuat kuda kayu lagi. Dan Manolin harus belajar bagaimana membuat kuda kayu. Dan anak saya… saya sebagai bapaknya akan membayar kuda kayu itu dengan harga yang pan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s