Ngompol


Ngompol

Duuhh.. aku ngompol lagiii!!!

Kriiiing!!!!

Jam weker Dino berdering nyaring. Dengan malas Dino membuka kelopak matanya. Eits, ada yang lembab di atas kasurnya. Dino meraba perlahan seprei biru bergambar Mickey Mouse. Tiba-tiba Dino terlonjak bangun.

“Aduh gawat, aku ngompol lagi,” desisnya dengan wajah cemas. “Ibu pasti marah lagi.”
Dan benar saja. Ibu Dino marah besar. Soalnya, baru kemarin Ibu mengganti seprei Dino karena Dino ngompol di tempat tidur.

Dino berangkat ke sekolah dengan wajah lesu. Ingin rasanya ia menghilangkan kebiasaan buruknya itu, namun Dino tak tahu bagaimana caranya.

Libur panjang kenaikan kelas tahun ini, Dino berlibur ke tempat Nenek di Yogya. Ayah mengantar Dino dengan kereta api. Di sepanjang perjalanan hanya satu yang ada di dalam benak Dino. Bagaimana caranya agar ia tidak ngompol.

Malu rasanya pada Nenek. Apalagi Nenek sudah tua, kasihan jika Nenek harus mencuci seprei dua hari sekali.
“Lha wong sudah kelas empat kok masih ngompol” Mungkin Nenek akan berucap seperti itu pada Dino.

Mereka tiba di Yogya pagi hari. Sorenya Ayah kembali ke Jakarta. Nenek telah menyediakan sebuah kamar untuk Dino. Kamarnya kecil tapi rapi sekali. Nenek selalu membersihkan kamar itu untuk berjaga-jaga jika ada anak atau cucunya yang akan menginap.

Tak terasa malam mulai menjelang. Suasana rumah Nenek yang masih pedesaan telah sunyi. Hanya suara binatang malam yang terdengar bersahutan. Nenek, Dino dan Om Budi, adik bungsu Ayah, menyantap makan malam. Nasi panas yang masih mengepul, orek tempe, gudeg, ayam goreng dan sambal.

Dino makan dengan lahap. Nenek dan Om Budi hanya tersenyum sambil menggeleng-gelengkan kepala. Maklum, tubuh Dino yang lumayan gendut mampu menampung banyak makanan. Bahkan pisang ambon yang besar-besar hasil kebun Nenek, masih muat mengisi ruang lambung Dino.

Ngompol

Haduh, aku takut ngompol lagi nih! 

Saat yang paling mendebarkan pun tiba. Waktunya tidur. Dino sangat gelisah. Miring ke kiri salah. Putar ke kanan salah. Tengkurap salah, apalagi dengan perut kekenyangan. Akhirnya Dino bangkit dari tempat tidur menuju meja kecil di sudut ruangan.

Diraihnya sebuah plastik berisisi capung yang ditangkapnya sore tadi. Plastik itu diikat ujungnya dan diberi lubang kecil di setiap sisinya untuk menjaga agar capung tetap dapat bernafas.

Menurut Chandra, teman Dino, salah satu obat untuk menghilangkan kebiasan ngompol adalah dengan membiarkan pusar digigit capung. Dino mengangkat kausnya hingga pusarnya kelihatan. Dengan ragu ia mendekatkan capung berwarna merah itu ke perutnya.

“Wadau!” Dino menjerit kesakitan. Dengan tergopoh-gopoh Nenek masuk ke dalam kamar.
“Ada apa, No?” tanya Nenek dengan wajah khawatir. Seekor capung terbang di atas kepala Nenek.

Dino bercerita terus terang walau ia agak malu. Nenek tertawa terkekeh-kekeh. Namun tiba-tiba wajah Nenek berubah serius. “Sebelum tidur, kamu sudah buang air kecil, belum?”

Dino memandang Nenek dengan heran. “Belum, Nek,” kata Dino sambil menggeleng. “Aku tidak biasa buang air kecil sebelum tidur,” lanjut Dino lagi.
“Nah kalau begitu sekarang Dino buang air kecil dulu. Nenek jamin kamu ndak ngompol.”

Sinar matahari menerobos masuk melalui celah jendela. Burung-burung berkicau ramai, membangunkan Dino. Begitu membuka matanya, Dino buru-buru bangkit dari tempat tidurnya dan meraba kasur.

“Aku nggak ngompol!” ucapnya tak percaya. “Nek, Dino nggak ngompol lagi!” teriak Dino menghambur ke arah Nenek yang tengah menyediakan teh dan pisang goreng di ruang tengah.

Nenek tersenyum lalu membelai kepala Dino. “Resep tidak ngompol itu gampang, kan? Pusar mu ndak perlu digigit capung. Cukup buang air kecil sebelum tidur. Kalau tengah malam ingin buang air kecil, segera bangun. Tapi kalau takut, Dino boleh membangunkan Nenek atau Om Budi untuk diantar ke belakang,” nasihat Nenek.

“Terima kasih Nek,” ucap Dino sambil memeluk Nenek. Kemudian Dino menyambar handuknya untuk segera mandi dan sarapan. Ia takut teh tubruk dan pisang gorengnya jadi dingin.

Oleh Siti Nurlaela 
(Bobo No. 04/XXXI)

One thought on “Ngompol

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s