Sebuah Rahasia


Sebenarnya Yanto sangat menyukai Tutuk, karena Tutuk lucu dan manis. Tetapi siang itu Yanto ingin bermain dengan kawan-kawannya, tanpa harus mengajak Tutuk. Tetapi Tutuk terus saja mendesaknya hendak ikut.
Sepakbola

Misteri Apa?

“Ajaklah dia,” bisik Ibu pada Yanto, “Daripada nanti dia terus menerus rewel di rumah.”

“Tetapi aku hendak bermain sepak bola, Bu,” jawab Yanto merengut, “Dia masih terlalu kecil..”

“Biarlah dia menunggu di tepi lapangan.”
“Ah, mana mungkin. Pasti Tutuk akan mengganggu. Dan bagaimana nanti kalau ia tertabrak kawan-kawanku?”

“Tetapi engkau kan tahu, Tutuk suka sekali bermain sepak bola?” kata Ibu lagi mendesak. Yanto tidak menjawab, hanya kakinya saja yang ditendangkan ke dinding dapur.

Tutuk memang senang sekali bermain bola, apalagi setelah pamannya mengirimkan sebuah buku gambar yang menceritakan riwayat hidup seorang kiper yang terkenal.

Ia ingin menjadi kiper seperti tokoh dalam cerita itu. Setiap hari ia bermain bola, sendirian, atau dengan siapa saja yang mau dipaksanya untuk ikut bermain dengannya. Dimintanya ibu membelikan kaus dengan gambar bola, atau nomor pemain.

“Mas Yanto,” tiba-tiba kembali Tutuk merengek, “Aku ikut ke lapangan ya?”
Yanto dan Ibu berpandangan.

Dengan berat hati, Yanto berkata, “Tapi kamu tidak boleh ikut main, mau? Kamu hanya boleh menonton di luar lapangan.”
“Mengapa aku tidak boleh ikut?” tanya Tutuk dengan mata yang mulai bersinar gembira.

“Karena teman mas Yanto besar-besar, nanti kalau kau diterjang mereka, kau bisa jatuh, lalu menangis…”
“Kalau aku tidak menangis?”

Sepakbola

Ibu tersenyum. Yanto semakin cemberut. Katanya kemudian, “Pokoknya, kau hanya boleh ikut, asal tidak nakal, tidak ikut masuk ke lapangan, dan tidak mengganggu kami. Nah, kau boleh pilih.”

“Baiklah,” kata Tutuk kemudian, agak kecewa. “Aku tidak akan nakal di sana nanti.”
Beberapa saat kemudian, Yanto telah menggandeng Tutuk ke luar.

Rumah kembali tenang dan menyenangkan. Ibu dapat meneruskan pekerjaannya, dan Ayah pun dapat mengaso tanpa terganggu kenakalan Tutuk..

Hari hampir petang ketika Yanto dan Tutuk tiba di rumah. Ibu memerintahkan mereka mandi dan berganti pakaian. Banyak sekali cerita Tutuk sore itu.

“Kata mas Yanto, besok sore Tutuk boleh ikut lagi, karena Tutuk tidak menangis.”
“Mengapa kau harus menangis?” tanya Ayah heran.

Tutuk hampir menjawab, tetapi Yanto melototkan matanya.
Ayah mengerutkan kening, “Wah, kalian menyimpan rahasia ya?”

“Tidak, Yah,” kata Yanto. “Tutuk tadi manis sekali di sana, jadi besok sore aku mau mengajaknya lagi.”
Malam itu Tutuk tidak mau makan, dan mengeluh bahunya sakit, begitu pula punggungnya. Ibu menggandengnya ke kamar.

“Ah, badanmu panas sekali,” kata Ibu terkejut dan segera memanggil Ayah.
“Mungkin terlalu panas di lapangan tadi,” kata Ayah sambil membaringkan Tutuk di kasurnya.

Sekali lagi Ibu meletakkan tangannya ke dahi Tutuk, dan memandang Ayah dengan cemas. Tutuk memejamkan mata, tanpa berkata sepatah pun.

“Mungkin dia jatuh,” bisik Ibu tiba-tiba.
Ayah memanggil Yanto ke ruang tengah, dan bertanya bagaimana keadaan Tutuk di lapangan sore tadi.

“Tidak ada apa-apa, Yah,” jawab Yanto gugup. “Mengapa?”
“Dia tidak jatuh?” tanya Ibu.

“Tid… tidak. Mengapa? Apakah Tutuk berkata begitu?”
“Tidak,” kata Ibu tenang. “Tetapi sekarang badan Tutuk panas. Ibu sudah memberinya obat, dan sekarang dia tertidur. Tetapi seandainya ia jatuh, katakanlah terus terang, supaya Ibu tidak salah memberi obat.”

Yanto memandang Ayah dan Ibu berganti-ganti dengan wajah pucat. Ayah segera menduga ada sesuatu rahasia pada kedua anak itu. Karena itu diajaknya Yanto ke kamar Tutuk. Disuruhnya Yanto meletakkan tangannya ke dahi Tutuk.

Tiba-tiba Tutuk membukakan matanya. Ia agak terkejut melihat Yanto di sisinya, dan Ayah serta Ibu di sisi yang lain.

Sakit

“Mas,” kata Tutuk hampir menangis, “Tutuk tidak bercerita. Tutuk juga tidak menangis.”
“Nah, apa sebenarnya yang terjadi?” tanya Ayah tajam, ditujukan kepada Yanto. “Ayo, ceritakan.”

“Tadi,” kata Yanto gemetar, “Waktu kami sedang ramai-ramainya bermain, tanpa kuketahui Tutuk telah masuk ke lapangan, dan ikut menendang bola yang menggelinding ke dekatnya…”

“Lalu?” sela ibu cemas.
“Dan ia tertabrak temanku yang juga hendak menendang bola itu,” kata Yanto dengan mata yang mulai berair. “Sungguh, Bu, aku tidak tahu bagaimana hal itu terjadi.”

“Jadi Tutuk jatuh tertindih temanmu,” terka Ayah.
“Ya, Ayah.” Yanto melirik Tutuk yang juga mulai hendak menangis.

“Lalu ia menangis, dan kau mengancamnya, bukan?” terka Ayah lagi. Yanto mengangguk.
“Mengancam?” tanya Ibu tidak mengerti.

“Ya. Mengancam supaya Tutuk tidak memberitahukan kejadian itu, dengan janji besok akan diajak lagi ke lapangan.”
“Maaf, Yah, Bu,” kata Yanto sambil terisak-isak. “Aku takut dipersalahkan tadi.”

Ibu segera mengambil obat gosok, dan merawat Tutuk dengan hati-hati, sambil berkata, “Untung kau segera mengaku, sehingga Ibu dan Ayah segera tahu apa yang harus dilakukan.”

Yanto memeluk Tutuk dengan penuh kasih.“Besok sembuh, ya Tuk?” pintanya. Tutuk mengangguk sambil tersenyum.
“Kalau aku sudah sembuh,” katanya, “Aku boleh jadi kiper?”

“Ya, kamu boleh jadi kiper,” sahut Ayah sambil tertawa lega, serta mengijinkan Yanto menungguinya. Dan malam itu Tutuk bermimpi menjadi kiper yang tangguh. Tak satu bola pun dapat membobolkan gawangnya.

oleh Rohyati Salihin
Bobo no.5/VII/1979

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s